Minggu, 23 September 2012

RAA COKRONEGORO I BUPATI PURWOREJO PERTAMA

Lahir dengan nama Raden Mas Reso Diwiryo, pada Rebo Pahing, 17 Mei 1779. Tempat kelahirannya Desa Bragolan, wilayah bagian (afdeling) Bagelen (sekarang masuk Kecamatan Purwodadi). Sebagai putera sulung dari Raden Bei Singawijaya (ayah) dan Raden Ayu Singawijaya (ibu), setelah remaja RM Reso Diwiryo mengabdi di Kepatihan, Keraton Surakarta. Tugasnya adalah mengawasi irigasi di daerah Ampel, Boyolali. walaupun tidak punya keturunan darah biru tapi kraton memberikan gelar Raden kepada ayah beliau dan beliau.

Kisah pengabdian Reso Diwiryo di Keraton Surakarta bermula karena ayahnya sempat tinggal di kota raja Surakarta sebagai seorang empu. Dikisahkan, ketika menginjak usia tua dan menderita lumpuh, RB Singawijaya mengundurkan diri dari abdi dalem Keraton Surakarta dengan jabatan terakhir Mantri Gladhag. Tonggak pengabdian di Kasunanan Surakarta selanjutnya diserahkan kepada putera sulungnya, yakni Reso Diwiryo.

Setelah menjadi tenaga magang, Reso Diwiryo berpeluang menjadi abdi dalem dengan pangkat Mantri Gladhag. Tugas Mantri Gladhag diceritakan menjadi pengawas narapidana yang akan menjalani sidang pengadilan. Diceritakan pula jika tugas Mantri Gladhag memimpin kantor yang mengurusi pajak keraton.

Sebagai Mantri Gladhag, kinerja RM Reso Diwiryo dinilai cukup berhasil sehingga diangkat sebagai Penewu Gladhag pada 1815. Kesuksesan ini dikisahkan karena ia berhasil melaksanakan tugas pemetaan ulang wilayah Keraton Surakarta yang diperintahkan oleh junjungannya, Sunan Paku Buwono VI.
Pemetaan ulang harus dilakukan karena pada tahun 1812 pemerintahan kolonial Belanda bertekuk lutut oleh pasukan Inggris pimpinan Gubernur Jenderal Raffles. Akibat status quo pemerintahan di Batavia (Jakarta), Keraton Surakarta yang dibantu laskar India (Sipahi) mencoba melawan bala tentara Inggris.

Perlawanan itu membuat Inggris berang dan segera mengambilalih wilayah afdeling yang dikuasai Kerajaan Surakarta. Situasi ini membuat para Pangeran dan pembesar Keraton yang mempunyai tanah bengkok (siti lenggah) di sekitar Kedu harus siap-siap memindahkan hak milik tanahnya ke wilayah bagian Bagelen (sebagai daerah yang masih menjadi wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta).
Pekerjaan memetakan ulang wilayah Keraton Surakarta memang tidak mudah. Karena hasilnya terus mengecewakan, para pangeran dan pembesar kerajaan mendesak raja supaya memilih petugas pemetaan yang kompeten. Kemudian Paku Buwono VI menugaskan Reso Diwiryo yang melakukannya.

Karena kinerjanya luar biasa, pemetaan ulang tanah Keraton Surakarta berhasil diselesaikan dalam waktu cepat. Hasil itu membuat para pangeran dan pembesar Keraton merasa puas, karena dapat segera mengetahui batas wilayah hak atas siti lenggah mereka yang baru. Atas prestasi itu, Reso Diwiryo dinaikkan pangkatnya sebagai Penewu Gladhag dan diberi gelar Raden Ngabei Reso Diwiryo.

Prestasi itu membuat RNg Reso Diwiryo semakin populer di mata pangeran dan pembesar keraton. Popularitas ini semakin berlanjut ketika Paku Buwono VI memerintahkan untuk memindahkan binatang peliharaan kesayangannya, yakni seekor banteng ganas ke kandang yang baru. Lagi-lagi Reso Diwiryo berhasil menyelesaikannya dengan baik.

Pada tahun 1819, Paku Buwono VI memerintahkan Reso Diwiryo dan RNg Wongsocitro membasmi para perampok yang merajalela di wilayah Bagelen. Para pemimpin perampok yang sangat meresahkan rakyat sekitarnya itu berhasil ditangkap dan dilucuti sehingga wilayah Bagelen kembali aman. Kembali kinerja Reso Diwiryo semakin cemerlang dengan prestasi ini.

Pada tahun 1820, para Mantri Gladhag dan Penewu Gladhag mendapat perintah untuk membuat sumur di dalam keraton. Uniknya pengerjaan sumur ini diawasi langsung oleh Sunan Paku Buwono VI. Ada kisah yang cukup mencengangkan dalam pengerjaan sumur itu yang terjadi sewaktu istirahat makan siang. Saat itu seluruh abdi dalem sudah keluar sumur, dan tinggal Reso Diwiryo yang terakhir akan naik. Ketika akan mencapai bibir sumur, Sunan Paku Buwono mengulurkan tangan untuk menggapai tangan Reso Diwiryo dalam rangka menolongnya ke luar dari lubang sumur.

Namun tangan Reso Diwiryo salah tangkap. Yang dipegangnya justru gagang keris pusaka keraton yang terselip di pinggang Sunan Paku Buwono VI. Namun anehnya Sri Sunan justru sekaligus menyerahkan sarung kerisnya sambil berkata bahwa keris Kyai Basah itu memang sengaja akan diberikan.
Melihat peristiwa itu, seluruh abdi dalem pekerja penggali sumur menjadi terkesima. Mereka langsung menyadari bahwa Reso Diwiryo adalah abdi kinasih Sri Sunan karena loyalitas dan kepatuhannya kepada sang Raja. Peristiwa itu cepat menyebar ke seluruh isi istana. Para pangeran dan pembesar keraton lalu menyadari bahwa Reso Diwiryo telah mendapat anugerah dari Raja Surakarta.

Ketika mendengar peristiwa itu, Patih Danurejo memanggil Reso Diwiryo untuk menghadap. Di kepatihan, ia minta agar keris itu diperlihatkan. Patih Danurejo kemudian berujar bahwa keris itu hanya layak dimiliki oleh orang yang memiliki jabatan serendah-rendahnya bupati. Lagi pula keris pemberian Sri Sunan masih ber-kerangka emas campuran (mamas). Karena itu Patih Danurejo menyarankan agar keris itu ditukar dengan keris miliknya yang berkerangka emas murni. Ia pun langsung memperlihatkan keris yang dimaksud yang pada saat itu sedang digenggam istrinya.

Namun Reso Diwiryo menolak mentah-mentah tawaran itu. Ia berkilah bahwa keris itu adalah miliknya yang saat sedang menggali sumur dipegang oleh Sri Sunan. Ia meyakinkan bahwa keris yang diberikan Raja adalah keris seorang Penewu dan bukan keris Raja.

Patih Danurejo tentu saja kecewa dengan jawaban itu. Ia menganggap Reso Diwiryo sudah berbohong. Setelah peristiwa itu ia langsung menyimpulkan bahwa Reso Diwiryo adalah abdi dalem yang tidak setia sehingga tidak layak menjadi Penewu Gladhag. Ia pun menurunkan pangkat Reso Diwiryo menjadi Mantri Gladhag.

Konon, Reso Diwiryo menjadi sakit hati. Ia merasa terhina dan malu karena hanya dalam soal keris, pangkatnya harus diturunkan. Tapi sebagai abdi dalem setia ia tidak mau berontak meski harus hidup di lingkungan keraton dengan menanggung malu. Akhirnya ia memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya yang kemudian diserahkan kepada anak sulungnya, yakni Ngabei Cokrosoro.

Sebagai seorang Priayi (Jawa:kenthol), Reso Diwiryo merasa dirinya diperlakukan sewenang-wenang. Namun kesetiaan terhadap raja adalah segala-galanya. Ia yakin benar bahwa Kyai Basah sangat tak ternilai. Baginya keris itu tidak bisa diukur dengan uang atau emas murni dan bahkan harus dipertahankan dengan segenap jiwa dan raga.

Sejak saat itu, Reso Diwiryo mengunci diri dari kehidupan luar. Ia tidak sudi lagi berhubungan dengan pembesar maupun para priyayi keraton. Yang kerap menyambanginya adalah Pangeran Kusumoyudo, seorang sahabat sejatinya yang datang untuk bertukar pikiran. Pangeran Kusumoyudo selalu meyakinkan bahwa kebenaran suatu saat pasti datang meski membutuhkan perjuangan yang berat.

Reso Diwiryo kemudian menjalani laku tirakat (yakni syarat yang dilakukan dengan menahan hawa nafsu berupa berpuasa, berpantang dan sebagainya untuk mencapai suatu maksud tertentu). Selain ingin membersihkan rohani, ia berharap agar Tuhan YME dapat memberikan keadilan serta melapangkan pintu kebenaran.

Pada tahun pertama
laku tirakat, ia hanya makan nasi putih (yakni tirakat putih). Pada tahun kedua ia hanya makan pisang emas setiap hari dan pada tahun ketiga hanya makan kunyit (kunir). Pada tahun keempat dilanjutkan hanya makan cabe (lombok) seunting sehari. Lalu pada tahun kelima, hidupnya sehari-hari hanya dipertahankan hanya dengan makan ketan.

Supaya tidak banyak tidur setiap malam, ia membuat batu bata (batu merah) di pekarangan rumah. Jika merasa lelah, ia memanjat atap rumah yang terbuat dari sirap (genteng kayu) dan berbaring di atasnya. Sebagai alas kepala, dibuatnya sepotong kayu yang dikerat cekung agar sesuai dengan kepalanya. Kayu cekung bantalan kepala ini masih dianggap sebagai kayu bertuah dan tersimpan di atas pusaranya di Bulus Hadi Purwo, Purworejo. Laku tirakat lima tahun ini oleh para sesepuh disebut tirakat puji dina dan bagi yang tidak mampu menjalaninya bisa menjadi gila.

Setelah merasa cukup bertirakat di kediamannya, Reso Diwiryo memutuskan untuk menemui sang bunda. Pada saat itu Nyai Singo Wijoyo telah kembali ke desa asalnya di Ngasinan (sekarang berada di wilayah Banyurip). Kembalinya sang bunda dari Barogolan (di Tanah Bagelen) ke Ngasinan karena ia ditinggal pergi suami tercintanya, yakni RB Singowijoyo menuju haribaan Sang Pencipta.

Setibanya di Ngasinan, Reso Diwiryo justru minta restu untuk melakukan laku tirakat ngluwat. Laku tirakat ini sangat berat karena dilakukan dengan cara menguburkan diri selama 40 hari di dalam tanah, dan hanya orang-orang tertentu yang mampu menjalaninya.

Mendengar tekad itu, Nyai Singo Wijoyo sempat melarang. Namun ia hanya mampu meneteskan air mata ketika mendengar tekad sang buah hatinya sudah sangat bulat. Sebagai bukti kasih ibu yang tak pernah padam, ia hanya bisa menunggu dan menjaga tempat penguburan diri sang putera sulung tercintanya dengan ditemani anak bungsunya, yakni RNg. Prawironegoro.

Dikisahkan, Reso Diwiryo mampu menyelesaikan tirakat ngluwat tersebut. Sewaktu baru digali dari liang tanah, tubuhnya sudah mirip kerangka. Bersama dengan RNg. Prawironegoro, sang ibunda tercinta merawat dengan penuh kasih tubuh sang putera sulungnya sehingga kembali sehat seperti sedia kala.

Pada saat yang bersamaan, sedang berlangsung pertempuran Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda. Perang Diponegoro disebut sebagai Perang Jawa terhebat dan terbesar yang meletus sepanjang 1825-1830. Kedahsyatan perang itu karena mendapat dukungan penuh dari kalangan pangeran dan sejumlah pembesar Keraton Yogyakarta.
Berkobarnya Perang Diponegoro dikisahkan karena dukungan banyak kalangan ternama. Kyai Maja (ulama besar Keraton Surakarta dari Tanah Bagelen) dan Sentot Prawirodirjo adalah tokoh kunci yang mendukung perang menjadi semakin akbar. Sentot Prawirodirjo, putra Adipati Madiun RNg. Prawiro Dirjo yang saat itu baru berusia 21 tahun, bahkan turut tewas karena diperdaya Belanda.

Pada 7 Januari 1828, laskar Diponegoro berhasil menghancurkan pos terdepan tentara Belanda di sebelah utara Brengkelan. Kehebatan taktik gerilya pasukannya benar-benar membuat Belanda kewalahan dan bahkan nyaris lumpuh tidak berdaya.

daerah pesisir pantai selatan atau urut sewu adalah daerah pertahanan Pangeran Diponegoro dimana banyak pengikut-pengikut setia beliau yang gagah berani, bahkan sampai saat ini darah-darah pemberani masih ada di masyrakat urut sewu.

Pangeran Diponegoro yang juga berguru di Pondok Pesantren milik KH. RM Tuan Guru Loning/KH.RM. Mansyur di Loning.Terhadap daerah-daerah yang berhasil dikuasai,Pangeran Diponegoro langsung membentuk pemerintahan. Beberapa kepala pemerintahan yang diangkat, yakni Bupati Madyokusumo (di Brengkelan), Tumenggung Tanggung (di sebelah timur Sungai Bogowonto), Tumenggung Loning, Tumenggung Karangdhuwur, Tumenggung Pacor, Tumenggung Semawung, Tumenggung Ambal, Tumenggung Wingko dan beberapa tumenggung lainnya di sekitar Bagelen.

Pemerintah Belanda kemudian meminta pertolongan Kasunanan Surakarta untuk ikut membantu. Semula Paku Buwono VI menolak mentah-mentah karena merasa bukan perang Keraton Surakarta, tapi hanya perlawanan Keraton Yogyakarta. Namun setelah dihasut bahwa Pangeran Diponegoro telah mengambil Tanah Bagelen yang merupakan wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta, Paku Buwono VI menjadi bimbang.

Susuhunan Paku Buwono VI kemudian membentuk pasukan dan mengangkat pamannya sendiri, yakni Pangeran Kusumoyudo sebagai panglima perang. Sebelum berangkat ke medan laga, Pangeran Kusumoyudo mengusulkan agar dirinya didampingi oleh Reso Diwiryo. Sebagai orang asli Bagelen, Reso Diwiryo dianggap lebih mengenal situasi dan kondisi wilayahnya. Pangeran Kusumoyudo juga tetap beranggapan bahwa Reso Diwiryo adalah abdi dalem yang setia. Meski telah mengundurkan diri, kesetian terhadap Raja tetap utuh. Pengunduran diri itu hanya bentuk rasa sakit kepada Patih Danurejo yang dianggap tidak adil. Susuhunan Paku Bowono pun memahami alasan itu sehingga menyetujui usulan Pangeran Kusumoyudo.


Reso Diwiryo kemudian dipanggil dan diperintahkan untuk maju ke medan laga dengan jabatan Senopati Pendamping. Tugasnya sebagai penunjuk jalan bagi pasukan Surakarta dan mendampingi Pangeran Kusumoyudo. Semula ia menolak perintah tersebut dan memohon agar Ngabei Cokrodiwiryo, putera keduanya yang menjadi Senopati Pendamping karena dinilai masih muda.

Namun Paku Buwono VI menolak gagasan itu. Ia yakin hanya Reso Diwiryo yang menguasai peta situasi Tanah Bagelen. Sebagai seorang abdi dalem setia, Reso Diwiryo tidak mampu menolak titah junjungannya. Sebagai prajurit, titah Raja tidak boleh dilanggar dan harus dipatuhi dengan segenap jiwa dan raga.
Setelah mendapat bantuan pasukan Surakarta, pasukan Pangeran Diponegoro mulai terdesak. Menurut Keraton Surakarta, semangat tempur Reso Diwiryo sungguh luar biasa. Sebagai tangan kanan Pangeran Kusumoyudo, ia berlaga di medan pertempuran dengan gagah berani dan memukul mundur juga mengalahkan pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro seperti gagak pranolo dan gagak handoko. Taktik perangnya sungguh luar biasa, sehingga mendapat pujian Keraton Surakarta. Karena itu pada 1828 ia diangkat menjadi Tumenggung di Brengkelan dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Cokro Joyo.

Sebagai Tumenggung, KRT Cokro Joyo berhak atas tanah bengkok (siti lenggah) di wilayah Tanggung seluas 350 hektar. Menurut peta bumi, Tanggung berada di sebelah timur Sungai Bogowonto dan saat ini masuk di wilayah Desa Sidomulyo, Kecamatan Purworejo.

Sikap pengabdian Cokro Joyo, dikisahkan sungguh luar biasa. Selama perang Diponegoro, kiprahnya membela Belanda sangat tak tertandingi. Konon selama peperangan berlangsung, Pangeran Kusumoyudo tidak pernah turun berlaga namun hanya berdiam diri di Tangsi Kedhung Kebo. Tapi Cokro Joyo tak pernah mengungkit kasus itu sama sekali.

Suatu ketika seorang opsir Belanda menyindir peristiwa itu dan bertanya; "Mengapa Pangeran Kusumoyudo tidak pernah mau turun berperang dan hanya bersenang-senang di markas besar?" Dengan tegas Reso Diwiryo menjawab; "Selama masih ada saya, Pangeran Kusumoyudo tak perlu turun tangan."

Loyalitas Cokro Joyo kepada junjungan maupun belanda tempat dirinya dibesarkan sungguh tak tertandingi. Kesetiaan kepada Pangeran Kusumoyudo tetap ditunjukkan meskipun adalah sahabatnya sendiri. cokro joyo berhasil membunuh para pangeran pengikut Pangeran Diponegoro Di Gunung Kelir setelah itu kepala mereka dipotong dan ditancapkan di ujung tombak, memang sikap itu sungguh biadab dan tak ber-etika apalagi terhadap pangeran, Belanda sangat senang sekali dengan hal itu. Baginya, Belanda dan Pangeran Kusumoyudo telah membantu dalam mengentaskan diri dari ketidakpastian persoalan hidup yang pernah melilitnya.

Selama peperangan, Reso Diwiryo sempat mengajak adik bungsunya, yakni RNg Prawironegoro dan abdi setianya, Jayeng Kuwuh. Kepada mereka, ia pun tak pernah menyinggung sikap Pangeran Kusumoyudo yang tak pernah mau turun bertempur. Hubungan Cokro Joyo dengan Pangeran Kusumoyudo makin terpelihara dengan baik terbukti mereka saling menikahkan putra-putrinya (berbesanan).
Setelah Pangeran Diponegoro dikalahkan dengan licik oleh Jenderal De Kock (dijebak sewaktu ditawarkan perundingan gencatan senjata di Magelang pada 28 Maret 1830), kehidupan di Tanah Bagelen kembali normal. Tidak ada lagi suara genderang perang dan terompet untuk membangunkan prajurit agar bersiap-siap mengangkat senjata. Juga tidak terdengar lagi dentuman meriam disertai jerit pilu suara rakyat yang lari ketakutan karena melihat desanya dijadikan medan laga.

Begitu dahsyatnya perang Diponegoro, sehingga banyak pihak yang melukiskannya ke dalam kidung. Kidung adalah apresiasi kesenian yang disukai masyarakat pada masa itu. Selain Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta yang membuat Serat Babat Perang Diponegoro, Pangeran Diponegoro dan Kiai Kuwaron (sekretarias pribadi Pangeran Diponegoro) juga melukiskan sendiri Serat Babad Perang Diponegoro sesuai versinya masing-masing. Cokro Joyo juga tidak ketinggalan melukiskannya melalui Serat Babad Kedhung Kebo setebal 700 halaman.

Setelah Diponegoro ditangkap, pada 22 Juni 1830 Pemerintah Hindia Belanda membuat perjanjian segi tiga dengan Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta. Dengan kekuasaan yang semakin besar, Sultan Hamengku Buwono V (yang memerintah Keraton Yogyakarta sepanjang 1822-1855) dipaksa menyerahkan sebagian wilayah Mancanegara Kilen (di sekitar wilayah Bagelen dan Banyumas) sebagai kompensasi kerugian perang. Selama perang Diponegoro, Belanda mengklaim telah mengeluarkan biaya senilai 20 juta gulden dan kehilangan 8.000 serdadu Eropa dan 7.000 serdadu pribumi.

Dengan penyerahan wilayah Mancanegara Kilen kepada Belanda, wilayah teritorial Keraton Yogyakarta semakin mengecil dibanding wilayah kekuasaan Keraton Surakarta. Karena itu, komisaris yang berkewajiban mengurus Surakarta, yakni Dewan Pemerintah Hindia Belanda, Mr. P Markus dan Residen Surakarta, Kolonel Mahuys mengirim surat kepada Paku Buwono VI. Isinya antara lain meminta agar Susuhunan berkenan melepas wilayah afdeling Bagelen dan Banyumas.

Semula pihak Keraton Surakarta berkeberatan. Namun karena desakan kekuasaan Belanda yang luar biasa, Paku Buwono VI akhirnya sepakat hanya bersedia menyerahkan wilayah afdeling Banyumas saja. Baginya wilayah afdeling Bagelen merupakan negara agung sebab disini banyak siti lenggah yang dimiliki para pangeran dan pejabat kraton.

Namun Belanda bersikeras tetap meminta wilayah afdeling Bagelen bahkan dengan ganti rugi sekalipun. Sekali lagi karena tekanan kekuasaan yang begitu besar, akhirnya Susuhunan Paku Buwono VI terpaksa melepaskan wilayah afdeling Bagelen dengan hati kesal. Sebagai pelampiasannya, ia pergi bermeditasi ke gua Mancingan di Pantai Selatan secara diam-diam (tanpa diketahui Residen Surakarta). Sesungguhnya gua itu dikenal sebagai tempat pertemuan rahasia dengan Pangeran Diponegoro sebelum beraksi melawan Belanda.
Kepergian Paku Buwono tanpa berita dimanfaatkan Belanda untuk menyebarkan isu politik. Disebutkan bahwa Susuhunan telah melanggar kontrak yang telah disepakati. Belanda bahkan menambah rumor itu dengan mengatakan bahwa kepergian ulama besar Keraton Surakarta, Kyai Maja untuk membantu Pangeran Diponegoro ternyata atas restu Paku Buwono VI.
Belanda semakin memojokkan Susuhunan dengan mengatakan bahwa pasukan Surakarta tidak pernah sungguh-sungguh membantu dalam perang Diponegoro. Susuhunan juga dipertanyakan kepergiannya bertapa ke Gua Mancingan namun sempat singgah ke Astana Imogiri dengan cara menyamar. Penyamaran Susuhunan sewaktu ziarah ke Imogiri adalah dengan mengaku sebagai putra Pangeran Mangkubumi dari Surakarta.

Lewat rumor politik itu, Belanda merasa memiliki alasan untuk menangkap Paku Buwono VI saat berada di Gua Pancingan. Setelah dipaksa turun tahta, melalui Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda tertanggal 3 Juli 1830, Susuhunan diasingkan dan dibuang ke Ambon. Untuk mengganti kedudukan Raja Surakarta, Belanda mengangkat Pangeran Purbaya dengan gelar Susuhunan Paku Buwono VII.
Kemudian Pemerintah Hindia Belanda segera membenahi wilayah kekuasannya secara sistematis. Posisi bupati maupun tumenggung yang sebelumnya diangkat Paku Buwono VI dikaji ulang. Cokro Joyo justru ditetapkan Belanda sebagai Bupati Brengkelan pada 1830. Hal ini sesuai dengan isi perjanjian segi tiga dengan kedua keraton itu bahwa semua pejabat daerah di wilayah Bagelen maupun Banyumas tidak ada yang diganti. Bila diangkat pejabat baru, Pemerintah Hindia Belanda harus bermusyawarah dengan raja yang bersangkutan.

Namun musyawarah pergantian pejabat daerah (sesuai isi perjanjian segi tiga) hanya berlaku sepihak dengan Kerajaan Surakarta. Terhadap Kerajaan Yogyakarta, karena dianggap sebagai biang keladi peperangan, Belanda tidak perlu bermusyawarah untuk mengganti pejabat daerah yang wilayahnya telah menjadi daerah kekuasaannya.


Akibatnya ada lima pejabat yang diakui karena perjanjian segi tiga ini, yakni KRT Cokro Joyo atau RNg Reso Diwiryo (Tumenggung Brengkelan), KRT Notonagoro atau Adipati Sawunggalih II (Bupati Semawung atau Kutuarjo), KRT Mangunnagoro (Bupati Ngaran atau Ungaran), Pangeran Blitar (Bupati Karangdhuwur) dan Arung Binang (Bupati Kutowinangun).
Setelah wilayah bagian (afdeling) Bagelen dan Banyumas diserahkan oleh Keraton Surakarta pada 18 Desember 1830, Pemerintah Hindia Belanda mengukuhkan pembentukan kedua wilayah bagian itu sebagai karesidenan melalui surat keputusan. Khusus untuk Residen Bagelen diperbantukan oleh dua orang asisten Residen yang berkedudukan di Ungaran dan Petanahan dengan pangkat Patih. Residen Bagelen ini akan ditempatkan di Brengkelan. Seorang Komis-Ontvanger serta seorang Sekretaris Landraad juga akan ditunjuk untuk bertugas di sana.

Tidak hanya itu, Pemerintah Hindia Belanda juga perlu mengawasi kondisi keamanan Bagelen secara intens. Karena itu ditempatkan dua orang asisten residen yang salah satunya berwenang menangani masalah kepolisian. Di samping itu, Belanda juga mengangkat seorang Kontrolir yang berkedudukan di Kutuarjo.
Dengan surat keputusan Belanda itu, Cokro Joyo secara langsung ditetapkan sebagai Bupati Brengkelan. Namun sebelum pelantikan, ia mengusulkan agar nama daerah itu diganti menjadi Purworejo. Baginya, Brengkelan berasal dari kata mrengkel yang artinya ngeyel, suka mendebat atau menentang. Sementara Purworejo berasal dari kata purwo yang berarti awal atau wiwitan dan rejo yang berarti kesuburan, kemakmuran dan kesejahteraan.

Pemerintah Hindia Belanda dan Raja Surakarta sepakat dengan usulan tersebut. Semenjak 18 Desember 1830 ditetapkanlah nama Kabupaten Purworejo dengan KRT Cokro Joyo sebagai bupati pertama yang dilantik dan diambil sumpahnya oleh Penghulu Kabupaten, KH Baharudin. Sebagai bupati, Cokro Joyo diberi gelar Raden Adipati Aryo Cokronagoro I oleh Susuhunan Paku Buwono VI. Namun mengingat Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda baru diterbitkan delapan bulan kemudian, secara definitif RAA Cokronagoro I baru bertugas sebagai Bupati Purworejo mulai 22 Agustus 1831.  yang harusnya menjadi hari jadi kabupaten Purworejo. tapi oleh karena dari pihak dari DPRD dan masyarakat pada waktu itu tidak mau, dikarenakan contoh yang buruk bagi generasi muda dan rasa nasionalisme, kemudian DPRD memberikan beberapa opsi dan opsi yang terpilih adalah prasasti kayu arahiwang pada masa hindu, yang sebetulnya gak ada hubunganya sama sekali dengan hari jadi purworejo yang terbentuk pasca Perang Diponegoro.


zeth is offline  






Sabtu, 22 September 2012

Sejarah terciptanya tarian Ndolalak



Sejarah terciptanya tarian Ndolalak yang kemudian menjadi tarian khas Purworejo ini, konon bermula dari peniruan oleh beberapa penggembala terhadap gerakan tarian dansa serdadu Belanda.
Penamaan Ndolalak diambil dari dominannya notasi nada do-la-la yang dinyanyikan serdadu Belanda untuk tarian dansa mereka. Ketika pertama kali tercipta, tarian Ndolalak tidak diiringi dengan peralatan instrumen musik, namun menggunakan nyanyian yang dilagukan oleh para pengiringnya. Lagu-lagu yang dicipta biasanya bernuansakan romantis bahkan ada yang erotis. Nyanyian tersebut dinyanyikan silih berganti atau terkadang secara koor bersama. Dalam perkembangannya, iringan musik tarian Ndolalak menggunakan instrumen musik jidur, terbang, kecer, dan kendang. Sedang untuk iringan nyanyian menggunakan syair-syair dan pantun berisi tuntunan dan nasihat. Isi syair dan pantun yang diciptakan merupakan campuran dari bahasa Jawa dan bahasa Indonesia sederhana. Untuk kostumnya, penari Ndolalak mengenakan layaknya pakaian serdadu Belanda, yaitu pakaian lengan panjang hitam dengan pangkat di pundaknya, topi pet, dan kacamata hitam. Tarian Ndolalak semula ditarikan oleh para penari pria. Namun dalam perkembangannya, sejak tahun 1976 Ndolalak ditarikan oleh penari wanita. Kini hampir di tiap grup Ndolalak di Purworejo semua penarinya adalah wanita. Jarang sekali kini ditemui ada grup Ndolalak dengan penari pria.
Mengamati keunikan tari Ndolalak, layaklah bila banyak yang mencari tahu cerita tentang perkembangannya. Dari pelacakan para budayawan ditemukan beberapa perbedaaan karakter pembawaannya sesuai dengan kelompok usia dan perkembangan zaman yang tetap berakar pada tradisi yang kental. Kesenian tari Ndolalak tumbuh dan berkembang dengan pesat di desa Kaliharjo, Kec. Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah. Daerah ini merupakan pusat perkembangan seni tari Ndolalak karena secara turun-temurun, anak-beranak penduduk Kaliharjo tetap mencintai dan menjaga kelestariannya. Hingga kini di desa Kaliharjo kehidupan berkesenian kaum tua, dewasa, remaja, dan anak-anak tidak dapat dipisahkan dari Ndolalak.

Penampilan Dolalak Massal 1.683 UNTUK MEMPERTAHANKAN DOLALAK SEBAGAI KESENIAN KHAS PURWOREJO

Penampilan Dolalak Massal 1.683 Siswa Memukau
 0
 0
image
Purworejo, CyberNews. Penampilan tari dolalak massal yang disajikan 1.683 siswa dari tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK se-Kabupaten Purworejo, Minggu (2/5) pagi memukau masyarakat.
Tari dolalak massal yang digelar di alun-alun usai upacara itu digelar dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).
Ribuan masyarakat berbondong-bondong untuk menyaksikannya secara langsung. Meskipun hanya berlangsung tidak lebih dari 30 menit, tapi penampilan para siswa membawakan tarian khas Purworejo itu mampu menyuguhkan hiburan yang menarik untuk dinikmati.
Yang menarik, saat menari para siswa tidak mengenakan seragam sekolah tapi memakai kostum khas dolalak berupa pakaian berenda dan celana pendek lengkap dengan eblek, topi, serta khas kaca mata hitam.
Tepuk tangan penonton langsung bergema saat ribuan penari itu memasuki area alun-alun dari sisi sebelah utara dan selatan. Mereka langsung membentuk formasi seperti huruf U sesuai dengan jenjang tingkatan.
Barisan terdepan diisi penari siswa SD disusul siswa SMP dan secara berurutan SMA dan SMK. Untuk menyeragamkan gerakan, ada sejumlah penari yang bertugas sebagai instruktur.
Penampilan tari massal dolalak ini spesial karena iramanya tidak mengikuti lagu dalam compact disc (CD), tapi ada penyanyi langsung yang diiringi pengrawit. "Penyanyinya berjumlah 21 siswa, penabuh kemprang 9 siswa dan penabuh bedug 5 siswa. Mereka berasal dari SMP 24," ujar Untariningsih dari sanggar Tari Prigel yang mengkoordinasikan tarian massal tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Drs Bambang Aryawan MM mengungkapkan, siswa yang terlibat dalam kegiatan tari massal itu merupakan perwakilan dari sekolah-sekolah di bawah 16 UPTD Pendidikan dan Kebudayaan. "Mereka direkrut oleh UPTD masing-masing. Para siswa itu dilatih di sekolah masing-masing dengan mempelajari prokem gerakan tari dolalak. Kami hanya mengkoordinasikan pada gladi resik selama dua hari," katanya.

Bukan Pertama

Lebih lanjut diungkapkan Bambang, kegiatan tari dolalak massal itu memang bukan yang pertama. Dalam peringatan Hardiknas tahun lalu juga diselenggarakan kegiatan yang sama namun jumlah penarinya tidak sebanyak tahun ini. "Rencananya tari massal ini akan menjadi agenda rutian peringatan Hardiknas setiap tahunnya," ujarnya.
Ditanya alasan memilih tari dolalak, Bambang menjelaskan, tari tersebut merupakan kesenian tari khas dari Purworejo. Tari massal itu dimaksudkan sebagai upaya nguri-uri dan melestarikan kesenian tari tersebut.
Diharapkan, dengan tarian itu masyarakat dan terutama siswa akan mengetahui bahwa sebenarnya tari dolalak memang kesenian khas Purworejo yang harus dilestarikan. "Kami tidak ingin generasi mendatang yang saat ini duduk di bangku sekoah tidak mengenal tarian ini," harapnya.

SAJADAH HATI


Tunduk dalam Hati dan Fikir
Itulah Sujud yang di kehendaki
Karena hati kan selalu bergejolak
……Fikiran kan selalu membangun angan
Bila manusia mengikuti suara hati
Dia akan menjadi labil
Bila manusia mengikuti suara fikrah
Fikir akan menjadi sombong
Bukan sekedar Sujud dalam fisik
Untuk tunduk pada Allah
Tapi kalian tundukkanlah
Hati dan Fikir pada Allah Swt
Hukum syari’at hanya berfungsi
Bila manusia tunduk pada Allah Swt
Bila hati dalam Fikir terus menolak
Walau manusia di penjarakan tetap saja
Manusia akan melanggar saat terbatas

KERAJAAN - KERAJAAN DI TANAH JAWA

Dinasti Sanjaya
*Sanjaya (732-7xx)
* Rakai Panangkaran
* (tidak diketahui)
* Rakai Patapan (8xx-838)
* Rakai Pikatan (838-855), mendepak Dinasti Syailendra
* Rakai Kayuwangi (855-885)
* Dyah Tagwas (885)
* Rakai Panumwangan Dyah Dewendra (885-887)
* Rakai Gurunwangi Dyah Badra (887)
* Rakai Watuhumalang (894-898)
* Rakai Watukura Dyah Balitung (898-910)
* Daksa (910-919)
* Tulodong (919-921)
* Dyah Wawa (924-928)
* Mpu Sindok (928-929), memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur (Medang)
Medang
* Mpu Sindok (929-947)
* Sri Isyanatunggawijaya (947-9xx)
* Makutawangsawardhana (9xx-985)
* Dharmawangsa (985-1006)
Kahuripan
* Airlangga (1019-1045), mendirikan kerajaan di reruntuhan Medang
(Airlangga kemudian memecah Kerajaan Kahuripan menjadi dua: Janggala dan Kadiri)
Janggala
(tidak diketahui silsilah raja-raja Janggala hingga tahun 1116)
Kadiri
(tidak diketahui silsilah raja-raja Kadiri hingga tahun 1116)
* Kameswara (1116-1135), mempersatukan kembali Kadiri dan Panjalu
* Jayabaya (1135-1159)
* Rakai Sirikan (1159-1169)
* Sri Aryeswara (1169-1171)
* Sri Candra (1171-1182)
* Kertajaya (1182-1222)
Singhasari
* Ken Arok (1222-1227)
* Ranggawuni (Jaya Wisnuwardhana) (1227-1248)
* Tohjaya (1248)
* Wisnuwardhana (1248-1254)
* Kertanagara (1254-1292)
Majapahit
* Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana) (1293-1309)
* Jayanagara (1309-1328)
* Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350)
* Hayam Wuruk (Rajasanagara) (1350-1389)
* Wikramawardhana (1390-1428)
* Suhita (1429-1447)
* Dyah Kertawijaya (1447-1451)
* Rajasawardhana (1451-1453)
* Girishawardhana (1456-1466)
* Singhawikramawardhana (Suraprabhawa) (1466-1474)
* Bhre Kertabhumi (Brawijaya) (1468-1478)
* Girindrawardhana (1474-1519)
Demak
* Raden Patah
* Pati Unus
* Sultan Trenggono
* Sunan Prawoto
Pajang
* Jaka Tingkir
Mataram Islam
* Ki Ageng Pemanahan, menerima tanah perdikan Mataram dari Jaka Tingkir
* Panembahan Senapati
* Sultan Agung (Prabu Hanyakrakusuma) (1613 – 1642)
* Amangkurat I (1645 – 1677)
* Amangkurat II
* Amangkurat III
* Pakubuwana I (1703 – 1719)
* Amangkurat IV, memindahkan istana ke Kartasura
* Pakubuwana II
Kasunanan Surakarta
* Pakubuwana III (1749 – 1788)
* Pakubuwana IV (1788 – 1820)
* Pakubuwana V (1820 – 1823)
* Pakubuwana VI (1823 – 1830), juga dikenal dengan nama (Pangeran Bangun Tapa)
* Pakubuwana VII (1830 – 1858)
* Pakubuwana VIII (1859 – 1861)
* Pakubuwana IX (1861 – 1893)
* Pakubuwana X (1893 – 1939)
* Pakubuwana XI (1939 – 1944)
* Pakubuwana XII (1944 – 2004)
* Pakubuwana XIII (Tedjowulan) (2005-sekarang)
Kasultanan Yogyakarta
* Hamengkubuwana I (Sultan Mangkubumi) (1755 – 1792)
* Hamengkubuwana II (1793 – 1828)
* Hamengkubuwana III (1810 – 1814)
* Hamengkubuwana IV (1814 – 1822)
* Hamengkubuwana V (1822 – 1855)
* Hamengkubuwana VI (1855 – 1877)
* Hamengkubuwana VII (1877 – 1921)
* Hamengkubuwana VIII (1921 – 1939)
* Hamengkubuwana IX (1939 – 1988)
* Hamengkubuwana X (1988 – sekarang)
Kerajaan Mangkunegara
* Mangkunagara I (Raden Mas Said) (1757 – 1796)
* Mangkunagara II (1796 – 1835)
* Mangkunagara III (1853 – 1881)
* Mangkunagara IV (1853 – 1881)
* Mangkunagara V (1881 – 1896)
* Mangkunagara VI (1896 – 1916)
* Mangkunagara VII (1916 -1944)
* Mangkunagara VIII (1944 – 1989)
* Mangkunagara IX (1990 – sekarang)
Pakualaman
* Paku Alam I (1813 – 1829)
* Paku Alam II (1829 – 1858)
* Paku Alam III (1858 – 1864)
* Paku Alam IV (1864 – 1878)
* Paku Alam V (1878 – 1900)
* Paku Alam VI (1901 – 1902)
* Paku Alam VII (1903 – 1938)
* Paku Alam VIII (1938 – 1998)
* Paku Alam IX (1998 – sekarang)

JONGKO JOYO BOYO

Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran.
Bila ada kereta tanpa kuda
One day there will be a cart without a horse.Tanah Jawa kalungan wesi.
Tanah jawa terbelenggu besi
The island of Java will be circled by an iron necklace.
Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang.
Perahu terbang di angkasa
There will be a boat flying in the sky.
Kali ilang kedhunge.
Sungai hilang arusnya
The river will loose its current.

Pasar ilang kumandhange.
Pasar sunyi
There will be markets without crowds.

Iku tanda yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak.
Itu tanda datangnya jaman Jayabaya sudah dekat
These are the signs that the Jayabaya era is coming.

Bumi saya suwe saya mengkeret.
Bumi kian menciut
The earth will shrink.

Sekilan bumi dipajeki.
Setiap jengkal tanah dipajaki
Every inch of land will be taxed.

Jaran doyan mangan sambel.
Kuda doyan sambal (Kerakusan)
Horses will devour chili sauce.

Wong wadon nganggo pakaian lanang.
Wanita mengenakan pakaian laki-laki
Women will dress in men’s clothes.

Iku tandane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman.
Itu tandanya kita bertemu jungkir baliknya jaman
These are the signs that the people and their civilization
have been turned upside down.

Akeh janji ora ditetepi.
Banyak Janji tak ditepati
Many promises unkept.

Akeh wong wani mlanggar sumpahe dhewe.
Banyak manusia yang berani menyalahi sumpahnya sendiri
Many break their oath.

Manungsa pada seneng nyalah.
Manusia saling menyalahkan
People will tend to blame on each other.

Ora ngindahake hukum Allah.
Tiada mengindahkan hukum Allah
They will ignore God’s law.

Barang jahat diangkat-angkat.
Hal jahat diangkat
Evil things will be lifted up.

Barang suci dibenci.
Yang suci dibenci
Holy things will be despised.

Akeh manungsa mung ngutamake duwit.
Banyak manusia yang hanya mengutamakan uang
Many people will become fixated on money.

Lali kamanungsan.
Lupa kemanusiaannya
Ignoring humanity.

Lali kabecikan.
Lupa kebajikan
Forgetting kindness.

Lali sanak lali kadang.
Lupa sanak lupa saudara
Abandoning their families.

Akeh Bapa lali anak.
Banyak bapak lupa anak
Fathers will abandon their children.

Akeh anak wani nglawan ibu.
Banyak anak berani melawan ibundanya
Children will be disrespectful to their mothers.

Nantang bapa.
Menantang ayah
And battle against their fathers.

Sedulur pada cidra.
Saudara pada bertengkar
Siblings will collide violently.

Kulawarga pada curiga.
Keluarga saling curiga
Family members will become suspicious of each other.

Kanca dadi mungsuh.
Teman jadi musuh
Friends become enemies.

Akeh manungsa lali asale.
Banyak manusia lupa asalnya
People will forget their roots.

Ukuman Ratu ora adil.
Hukum tidak adil
The queen’s judgements will be unjust.

Akeh pangkat sing jahat lan ganjil.
Banyak pejabat yang jahat dan ganjil
There will be many peculiar and evil leaders.

Akeh kelakuan sing ganjil.
Banyak perilaku yang aneh2
Many will behave strangely.

Wong apik-apik pada kepencil.
Orang baik-baik terpencil
Good people will be isolated.

Akeh wong nyambut gawe apik-apik pada krasa isin.
Banyak orang malu melakukan pekerjaan baik-baik
Many people will be too embarrassed to do the right things.

Luwih utama ngapusi.
Lebih utama membohongi
Choosing falsehood instead.

Wegah nyambut gawe.
Malas berkerja
Many will be lazy to work.

Kepingin urip mewah.
Tapi ingin hidup mewah
Seduced by luxury.

Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka.
Mengumbar nafsu angkara murka, memperbanyak dosa durhaka
They will take the easy path of crime and deceit.

Wong bener thenger-thenger.
Orang baik pada bingung
The honest will be confused.

Wong salah bungah.
Orang yang salah bergembira
The dishonest will be joyful.

Wong apik ditampik-tampik.
Orang baik ditolak
The good will be rejected.

Wong jahat munggah pangkat.
Orang jahat naik pangkat
The evil ones will rise to the top.

Wong agung kesinggung.
Orang berhati mulia di kritik di sudutkan
Noble people will be wounded by unjust criticism.

Wong ala kepuja.
Yang berhati jahat malah dipuja
Evil doers will be worshipped.

Wong wadon ilang kawirangane.
Kaum wanita hilang rasa malunya
Women will become shameless.

Wong lanang ilang kaprawirane.
Kaum pria hilang harga diri dan keberaniannya
Men will loose their courage.

Akeh wong lanang ora duwe bojo.
Banyak pria tak beristri
Men will choose not to get married.

Akeh wong wadon ora setya marang bojone.
Banyak wanita yang tak setia dengan suaminya
Women will be unfaithful to their husbands.

Akeh ibu pada ngedol anake.
Banyak ibu menjual anaknya
Mothers will sell their babies.

Akeh wong wadon ngedol awake.
Banyak wanita menjual badannya
Women will engage in prostitution.

Akeh wong ijol bebojo.
Banyak orang bertukar pasangan
Couples will trade partners.

Wong wadon nunggang jaran.
Wanita menunggang kuda (mencari nafkah)
Women will ride horses.

Wong lanang linggih plangki.
Laki-laki di rumah
Men will be carried in a stretcher.

Randa seuang loro.
Orang mudah bercerai
A divorcee will be valued at 17 cents.

Prawan seaga lima.
Nilai keperawanan/kesucian murah
A virgin will be valued at 10 cents.

Duda pincang laku sembilan uang.
Pria yang gak baik malah bernilai mahal
A crippled men will be valued at 75 cents.

Akeh wong ngedol ngelmu.
Banyak orang menjual ilmu dan pengetahuannya
Many will earn their living by trading their knowledge.

Akeh wong ngaku-aku.
Banyak orang yg mengambil keuntungan dari orang lain
Many will claims other’s merits as their own.

Njabane putih njerone dadu.
Luarnya putih dalamnya hitam
It is only a cover for the dice.

Ngakune suci, nanging sucine palsu.
Ngaku suci tapi kesuciannya palsu belaka
They will proclaim their righteousness despite their sinful ways.

Akeh bujuk akeh lojo.
Banyak kecurangan dan kelicikan
Many will use sly and dirty tricks.

Akeh udan salah mangsa.
Banyak hujan salah musimnya
Rains will fall in the wrong season.

Akeh prawan tuwa.
Banyak perawan tua
Many women will remain virgins into their old age.

Akeh randa nglairake anak.
Banyak janda melahirkan anak
Many divorcees will give birth.

Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne.
Banyak jabang bayi mencari ayahnya
Newborns will search for their fathers.

Agama akeh sing nantang.
Banyak yang menentang Agama
Religions will be attacked.

Perikamanungsan saya ilang.
Perikemanusian hilang semuanya
Humanitarianism will no longer have importance.

Omah suci dibenci.
Rumah suci dibenci
Holy temples will be hated.

Omah ala saya dipuja.
Tempat maksiat dipuja2
They will be more fond of praising evil places.

Wong wadon lacur ing ngendi-endi.
Wanita lacur bertebaran dimana2
Prostitution will be everywhere.

Akeh laknat.
Banyak kelaknatan
There will be many worthy of damnation.

Akeh pengkhianat.
Banyak pengkhianat
There will be many betrayals.

Anak mangan bapak.
Anak makan bapak
Children will be against father.

Sedulur mangan sedulur.
Saudara saling memakan
Siblings will be against siblings.

Kanca dadi mungsuh.
Teman jadi musuh
Friends will become enemies.

Guru disatru.
Guru dilawan
Students will show hostility toward teachers.

Tangga pada curiga.
Tetangga pada curiga
Neighbours will become suspicious of each other.

Kana-kene saya angkara murka.
Dimana-mana banyak angkara murka
And ruthlessness will be everywhere.

Sing weruh kebubuhan.
Saksi jadi tersangka
The eyewitness has to take the responsibility.

Sing ora weruh ketutuh.
Orang tak tahu menahu jadi tertuduh
The ones who have nothing to do with the case will be prosecuted.

Besuk yen ana peperangan.
Satu saat nanti akan ada peperangan
One day when there will armagedon.

Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor.
Di timur, selatan dan utara
In the east, in the west, in the south, and in the north.

Akeh wong becik saya sengsara.
Banyak orang baik-baik jadi sengsara
Good people will suffer more.

Wong jahat saya seneng.
Orang Jahat senang
Bad people will be happier.

Wektu iku akeh dandang diunekake kuntul.
Banyak kebohongan
When this happens, a rice cooker will be said to be an egret.

Wong salah dianggep bener.
Yang salah dianggap benar
The wrong person will be assumed to be honest.

Pengkhianat nikmat.
Pengkhianat nikmat
Betrayers will live in the utmost of material comfort.

Durjono saya sempurna.
Terlebih lagi Sang durjana
The deceitful will decline even further.

Wong jahat munggah pangkat.
Orang jahat naik pangkat
The evil persons will rise to the top.

Wong lugu kebelenggu.
Orang yang naif terbelenggu
The modest will be trapped.

Wong mulyo dikunjoro.
Orang mulia dipenjara
The noble will be imprisoned.

Sing curang garang.
Yang berhati curang garang
The fraudulent will be ferocious.

Sing jujur kojur.
Yang jujur susah setengah mati
The honest will unlucky.

Pedagang akeh sing keplarang.
Many merchants will fly in a mess.

Wong main akeh sing ndadi.
Perjudian makin menjadi
Gamblers will become more addicted to gambling.

Akeh barang haram.
Banyak barang haram
Illegal things will be everywhere.

Akeh anak haram.
Banyak anak haram
Many babies will be born outside of legal marriage.

Wong wadon nglamar wong lanang.
Kaum wanita melamar pria
Women will propose marriage.

Wong lanang ngasorake drajate dhewe.
Kaum pria merendahkan derajatnya sendiri
Men will lower their own status.

Akeh barang-barang mlebu luang.
Banyak barang tak terjual
The merchandise will be left unsold.

Akeh wong kaliren lan wuda.
Banyak orang tak berpunya pangan maupun sandang
Many people will suffer from starvation and inability
to afford clothing.

Wong tuku nglenik sing dodol.
Pembeli lebih pintar dari penjual
Buyers will become more sophisticated.

Sing dodol akal okol.
Penjual harus putar akal mati2an
Sellers will have to use their brains and muscle to do business.

Wong golek pangan kaya gabah diinteri.
Susah cari makan
In the way they earn a living, people will be as rice paddies being
swung around and blown up.

Sing kebat kliwat.
Banyak yg hilang kendali
Some will go wild out of control.

Sing telah sambat.
Yang tak berambisi tertinggal
Those who are not ambitious will complaint of being left behind.

Sing gede kesasar.
Yang besar tersesat
The ones on the top will get lost.

Sing cilik kepleset.
Yang kecil terpeleset
The ordinary people will slip.

Sing anggak ketunggak.
Yang angkuh akan terhalang
The arrogant ones will be impaled.

Sing wedi mati.
Yang takut tak akan bertahan
The fearful ones will not survive.

Sing nekat mbrekat.
Yang nekat akan berhasil
The risk takers will be successful.

Sing jerih ketindhih.
Yang takut akan tertindas
The ones who are afraid of taking the risks will be crushed under
foot.

Sing ngawur makmur,
Yang ngawur justru makmur
The careless ones will be wealthy.

Sing ngati-ati ngrintih.
Yang berhati2 merintih
The careful ones will whine about their suffering.

Sing ngedan keduman.
Yang edan kebagian
The crazy ones will get their portion.

Sing waras nggagas.
Tapi mereka yg waras (mental dan fisik) akan berpikir bijak
The ones who are mentally and physically healthy will think wisely.

Wong tani ditaleni.
Petani terikat
The farmers will be controlled.

Wong dora ura-ura.
Para koruptor beruntung tak terkira
Those who are corrupt will spend their fortune lavishly.

Ratu ora netepi janji, musna kekuasaane.
Raja tak menepati janji, musnah kekuasaannya
The queen who does not keep her promises will lose her power.

Bupati dadi rakyat.
Bupati menjadi rakyat
The leaders will become ordinary persons.

Wong cilik dadi priyayi.
Orang kecil jadi pemimpin
The ordinary people will become leaders.

Sing mendele dadi gede,
Orang tak jujur akan jadi pejabat
The dishonest persons will rise to the top.

Sing jujur kojur.
Yang jujur sekarat
The honest ones will be unlucky.

Akeh omah ing nduwur jaran.
Banyak rumah berada di atas kuda
There will be many people own a house on horseback.

Wong mangan wong.
Orang makan orang
People will attack other people.

Anak lali bapak.
Anak lupa bapak
Children will ignore their fathers.

Wong tuwa lali tuwane.
Orang tua lupa tanggung jawabnya
Parents will not want to take their responsibility as parents.

Pedagang adol barang saya laris.
Pedagang menjual barang sangat laris
Merchants will sell out of their merchandise.

Bandane saya ludes.
Tapi hartanya ludes
Yet, they will lose money.

Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan.
Banyak orang mati kelaparan dalam kemakmurannya
Many people will die from starvation in prosperous times.

Akeh wong nyekel banda nanging uripe sengsara.
Banyak orang berpunya tapi hidupnya sengsara Many people will have
lots of
money yet, be unhappy in their lives.

Sing edan bisa dandan.
Yang edan berdandan mentereng
The crazy one will be beautifully attired.

Sing bengkong bisa nggalang gedong.
Yang berhati bengkok bisa membangun rumah gedong
The insane will be able to build a lavish estate.

Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil.
Yang berhati lurus hidupnya memprihatinkan dan tersisih
The ones who are fair and sane will suffer in their lives
and will be isolated.

Ana peperangan ing njero.
Akan ada perang saudara
There will be internal wars.

Timbul amarga para pangkat akeh sing pada salah paham.
Para petinggi saling salah paham
As a result of misunderstandings between those at the top.

Durjana saya ngambra-ambra.
Kedurjanaan bersimaharajalela
The numbers of evil doers will increase sharply.

Penjahat saya tambah.
Penjahat bertambah
There will be more criminals.

Wong apik saya sengsara.
Orang baik-baik sengsara
The good people will live in misery.

Akeh wong mati jalaran saka peperangan.
Banyak yang mati dalam peperangan
There will be many people die in a war.

Kebingungan lan kobongan.
Kebingungan dan semuanya habis terbakar
Others will be disoriented, and their property burnt.

Wong bener saya tenger-tenger.
Yang benar kebingungan
The honest will be confused.

Wong salah saya bungah-bungah.
Yang salah bergembiraria
The dishonest will be joyful.

Akeh banda musna ora karuan lungane.
Banyak harta habis tak tentu arah
There will be disappearance of great riches.

Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe.
Jabatan dan kekayaan hilang tak diketahui sebabnya There will be
disappearance of great titles, and jobs.

Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram.
Banyak barang haram, banyak anak haram
There will be many illegal goods, There will be many babies born
without fathers.

Bejane sing lali, bejane sing eling.
Seberuntung2nya mereka yang lupa diri, akan lebih bahagia mereka yang
selalu
ingat (dzikr)

Nanging sauntung-untunge sing lali.
Namun seuntung2nya yang lupa diri
Those people who forget God’s Will may be happy on earth.

Isih untung sing waspada.
Akan lebih untung mereka yang ingat waspada
But those who are remember God’s will are destined
to be happier still.

Angkara murka saya ndadi.
Angkara murka makin menjadi
Ruthlessness will become worse.

Kana-kene saya bingung.
Kebingungan dimana2
Everywhere the situation will be chaotic.

Pedagang akeh alangane.
Pedagang banyak halangannya
Doing business will be more difficult.

Akeh buruh nantang juragan.
Banyak buruh menantang juragan
Workers will challenge their employers.

Juragan dadi umpan.
Juragan jadi umpan
The employers will become bait for their employees.

Sing suwarane seru oleh pengaruh.
Yang suaranya keras akan mendapat pengaruh(kekuasaan)
Those who speak out will be more influential.

Wong pinter diingar-ingar.
Orang yg pintar jadi bulan2an
The wise ones will be ridiculed.

Wong ala diuja.
Orang yang salah dipuja
The evil ones will be worshipped.

Wong ngerti mangan ati.
Orang yang paham akan makan ati
The knowledgeable ones will show no compassion.

Banda dadi memala.
Harta benda jadi penyakit
The pursuit of material comfort will incite crime.

Pangkat dadi pemikat.
Jabatan terlihat menggiurkan
Job titles will become enticing.

Sing sawenang-wenang rumangsa menang.
Yang sewenang-wenang berasa menang
Those who act arbitrarily will feel as if they are the winners.

Sing ngalah rumangsa kabeh salah.
Yang mengalah seakan-akan kalah
Those who act wisely will feel as if everything is wrong.

Ana Bupati saka wong sing asor imane.
Para pemimpin rendah imannya
There will be leaders who are weak in their faith.

Patihe kepala judi.
Patih nya saja gembong judi
Their vice regent will be selected from among the ranks of the
gamblers.

Wong sing atine suci dibenci.
Yang hatinya suci malah dibenci
Those who have a holy heart will be rejected.

Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat.
Yang jahat dan pintar malah mendapat derajat
Those who are evil, and know how to flatter their boss,
will be promoted.

Pemerasan saya ndadra.
Pemerasan makin menjadi
Human exploitation will be worse.

Maling lungguh wetenge mblenduk.
Maling duduk santai dengan perutnya yang gendut
The corpulent thieves will be able to sit back and relax.

Pitik angkrem saduwurane pikulan.
Ayam mengeram stinggi pikulan (Petinggi banyak yg berbuat curang)
The hen will hacth eggs in a carrying pole.

Maling wani nantang sing duwe omah.
Maling berani menantang yang punya rumah
Thieves will not be afraid to challenge the target.

Begal pada ndugal.
Begal makin gila
Robbers will dissent into greater evil.

Rampok pada keplok-keplok.
Rampok mendapat tepuk tangan
Looters will be given applause.

Wong momong mitenah sing diemong.
Pengasug difitnah oleh yg diasuh
People will slander their caregivers.

Wong jaga nyolong sing dijaga.
Penjaga nyolong milik yang dijaga
Guards will steel the very things they are to protect.

Wong njamin njaluk dijamin.
Penjamin minta dijamin
Guarantors will ask for collateral.

Akeh wong mendem donga.
Banyak yang minta doa
Many will ask for blessings.

Kana-kene rebutan unggul.
Semua orang berebut kemenangan pribadi
Everybody will compete for personal victory.

Angkara murka ngombro-ombro.
Angkara murka tersebar dimana2
Ruthlessness will be everywhere.

Agama ditantang.
Agama ditantang
Religions will be questioned.

Akeh wong angkara murka.
Banyak orang yang angkara murka
Many people will be greedy for power, wealth and position.

Nggedeake duraka.
Memperbanyak dosa
Rebelliousness will increase.

Ukum agama dilanggar.
Hukum agama dilanggar
Religious law will be broken.

Perikamanungsan di-iles-iles.
Perikemanusiaan diinjak-injak
Human rights will be violated.

Kasusilan ditinggal.
Kesusilaan ditinggalkan
Ethics will left behind.

Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi.
Banyak orang edan, jahat dan kehilangan akal budi
Many will be insane, cruel and immoral.

Wong cilik akeh sing kepencil.
Orang kecil tersingkir
Ordinary people will be segregated.

Amarga dadi korbane si jahat sing jajil.
Mereka akan jadi korban si hati jahat dan iblis
They will become the victims of evil and cruel persons.

Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit.
Akan ada raja yang berpengaruh
Then there will come a queen who is influential.

Lan duwe prajurit
Memiliki bala tentara
She will have her own armies.

Negarane ambane sapra-walon.
Negaranya seluas seperdelapan dunia
Her country will measured one-eighth the circumference of the world.

Tukang mangan suap saya ndadra.
Tukang makan uang suap makin banyak
The number of people who commit bribery will increase.

Wong jahat ditampa.
Orang jahat diterima
The evil ones will be accepted.

Wong suci dibenci.
Orang suci dibenci
The innocent ones will be rejected.

Timah dianggep perak.
Timah dianggap perak
Tin will be thought to be silver.

Emas diarani tembaga
Emas dibilang tembaga.
Gold will be thought to be copper.

Dandang dikandakake kuntul.
A rice cooker will be thought to be an egret.

Wong dosa sentosa.
Pendosa sentosa
The sinful ones will be safe and live in tranquility.

Wong cilik disalahake.
Orang kecil disalahkan
The poor will be blamed.

Wong nganggur kesungkur.
Pengangguran terpuruk
The unemployed will be rooted up.

Wong sregep krungkep.
The diligent ones will be forced down.

Wong nyengit kesengit.
Orang akan menuntut balas terhadap yang menekannya The people will
seek
revenge against the fiercely violent ones.

Buruh mangluh.
Buruh bekerja habis2an
Workers will suffer from overwork.

Wong sugih krasa wedi.
Yang kaya ketakutan
The rich will feel unsafe.

Wong wedi dadi priyayi.
Yang berpunya merasa tak aman
People who belong to the upper class will feel insecure.

Senenge wong jahat.
Yang jahat senang
Happiness will belong to evil persons.

Susahe wong cilik.
Yang kecilan susah
Trouble will belong to the poor.

Akeh wong dakwa dinakwa.
Orang saling menuntut satu sama lain
Many will sue each other.

Tindake menungsa saya kuciwa.
Perilaku manusia semakin rendah
Human behaviour will fall short of moral enlightenment.

Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi.
Raja dengan raja berembug, negara mana yang disenangi
Leaders will discuss and choose which countries are their
favourites and which ones are not.

Wong Jawa kari separo,
Orang jawa tinggal separuhnya
The Javanese will remain half.

Landa-Cina kari sejodo.
Orang Belanda dan China tinggal sejodoh
The Dutch and the Chinese each will remain a pair.

Akeh wong ijir, akeh wong cethil.
Banyak kelicikan kebusukan
Many become stingy.

Sing eman ora keduman.
The stingy ones will not get their portion.

Sing keduman ora eman.
The ones who receive their portion will not be generous.

Akeh wong mbambung.
Banyak pengemis dimana2
Street beggars will be everywhere.

Akeh wong limbung.
Banyak orang bingung/stress tak tentu arah
Bewildered persons will be everywhere.

Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka.
Inilah tanda-tanda terbaliknya zaman

ASAL USUL INDONESIA

PADA zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.
Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah “Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).
Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini kurang populer. Bagi orang Bandung, Insulinde mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.
Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.
Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.
Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.
Nama Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: … the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!
Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.
Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.
Makna Politis
Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.
Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”
Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch-Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.
Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.